Kamis, 14 Desember 2017

Sebuah Surat Untuk Seorang Perempuan dengan Hati Setegar Karang dan Bahu Sekuat Baja

Bagaimana bisa Ia tertawa sedang hatinya terus berduka sebab banyak trauma yang ia dapat. Cara apa yang Ia pakai untuk menutupi kesedihan yang datang bertubi-tubi dalam hidupnya, bagaimana Ia tetap berjalan maju dengan berjuta beban yang Ia terima.
Sekuat itukah dirinya atau memang perasaanya telah lama mati bersama dengan harapan dan mimpi-mimpinya?

Adakah yang mampu melihat kesedihan dalam tawanya? Adakah yang bisa mengerti disetiap amarahnya? Adakah yang tau kesakitan dalam isaknya?
Seperti itulah kiranya. Ia menangis dalam senyumnya, seringkali menyembunyikan kesedihan dalam candanya, tak pernah lupa untuk terus berpura-pura bahagia dalam kesehariannya.

Jangan tanyakan tentang mimpinya, harapan juga cita-cita dalam hidupnya.
Semua telah lama mati bersama dengan dirinya yang sesungguhnya. Tak ada lagi harapan yang Ia semogakan, tak ada lagi mimpi yang selalu ingin untuk diwujudkan tak ada lagi cita untuk Ia raih.
Dirinya telah lama mati terkubur bersama mimpi dan harapannya.
Bahkan telah lupa apa itu bahagia.

Ia lupa bagaimana bahagia yang sesungguhnya.

Bekasi, 15 Desember 2017.
03;00