Jumat, 13 Februari 2015

untittle

Lagi. Pada aksara tak berarti kutulis tentang rasa yang telah lama menyiksa hati, bagaimana bisa hati itu tetap utuh saat kau coba untuk mematahkannya untuk yang kesekian kali.
Lalu bagaimana bisa aku menjadi bodoh dengan tetap bertahan pada rasa yang lebih pahit dari kopi.
Dan bagaimana bisa aku terus mengharapkan yang 'katanya' mustahil.
Terlalu besar rasa sakit yang kau cipta tapi rasa ingin memilikimu lebih besar dari sekedar luka itu.
Harus berapa lama agar rasa itu hilang?
Harus ku apakan hati yang telah hancur tak berbentuk?
Harus dengan cara apalagi aku melupakan seorang bajingan sepertimu.

Entah sudah berapa ribu aksara yang telah kuukir dan kutulis untukmu.
Lagi. Belum hilang rasa sakit itu kini ada rasa yang lebih menyakitkan dari sekedar luka, rindu.
Rindu itu datang tanpa permisi pada si puannya, Ia selalu datang membawa teman. Airmata.
Iya. Airmata yang selalu menemani rindu ketika ia datang
Tak ada yang lebih lara dari rindu yang terabaikan.

Setelah kepergian itu yang tersisa hanya luka dan rindu yang semakin dalam.
Tak ada lagi warna indah yang ada hanya kelabu.
Ternyata kau bukan matahari, kau hanya pelangi yang memberi sejuta warna indah
Kemudian kau pergi membawa warna itu hanya menyisahkan gelap.
Membawa pergi hati, meninggalkannya entah dimana.

Pada bait terakhir ini aku tak menemukanmu dalam puisiku yang ada hanya kenangan yang menjelma melodi .
Diam-diam masuk dalam anganku mengusik malamku.
Lalu pada bait terakhir hanya ada luka dan rindu yang menjadi satu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar