Perihal rindu, cinta dan setia. Aku merasakan bahwa ketulusan tak lagi setulus dulu, dalam sebait kata ijinkan aku menulisan apa-apa yang membuatku ragu. Aksara memang selalu bisa mengartikan setiap rasa yang dirasa oleh sang puan.
Ini aku yang diam. Dengan seribu pertanyaan yang memutar dalam pikiranku yang kalut.
Ini aku yang diam. Dengan hati yang gelisah. Masih utuh kah hati itu mencintai ku ?
Ini aku yang masih diam. Dengan rasa yang entah bernama apa.
Yang membuat hati tak lagi sebahagia dulu.
Masih tentang diam, bagaimana bisa aku terus meyakinkan hati untuk mencinta sementara logika mulai meminta untuk berhenti mencinta.
O, tuan. Yakinkan lagi hatiku untuk tetap bertahan dalam cinta atas nama setia.
Dekap aku dengan rasa setulus mungkin.
Kecup aku dengan cinta yang tak pernah padam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar