Minggu, 21 Agustus 2016

Lelaki yang kusebut, Old Man.

Maaf untuk setiap khilaf yang terjadi. Jika ada yang bilang sabar tak berbatas. Mungkin setelah mengenalmu aku percaya sabar tidak berbatas. Maaf untuk setiap goresan luka yang kau dapat karna amarah yang sering kali terjadi. Aku mencintaimu hanya saja aku tak tau bagaimana cara mengungkapkannya. Aku merindukanmu hanya saja gengsi sering kali membuatku enggan bicara padamu. Jika saat ini kau sedang menghukumku dengan cara mendiamkan ku, maka. Aku memohon dengan sangat padamu sudahi hukuman ini sebab diammu adalah yang paling menakutkan setelah amarah ibuku. Sebab. Diammu membuatku bisu tak bisa berkata apapun sedang rindu semakin riuh meminta temu.

Untuk lelaki yang kusebut Old Man.
Jika  diammu adalah cara untuk berhenti mencintaiku, aku memohon dengan sangat jangan pernah lakukan itu sebab, dicintai olehmu adalah kebahagiaan yang baru kudapat setelah luka masalalu membuatku lupa cara berbahagia. Jika diammu adalah cara untuk membuatku sadar kau telah berhasil melakukan itu sebab. Aku sadar egois saja tak cukup membuatmu mengerti apa yang kuinginkan.

Untuk mu, lelakiku.
Mari kita buat kesepakatan untuk memulai berkomitmen lebih serius, lupakan apapun yang membuatmu merasa bersalah pun sedih. Begitupun aku. Berusaha menjadi lebih baik, lebih memahami maksud dan keinginan mu. Bukankah itu yang kau inginkan, sayang?
Mari mulai mencintai dengan sangat. Menautkan jemari yang hampir terlepas saling mengecup saat senja mulai hilang. Membahagiakan satu sama lain. Aku mencintaimu. Sungguh.


Bekasi, 22 Agustus 2016
00;02

Tidak ada komentar:

Posting Komentar